Follow by Email

Tanah Air

my team

TAMOE

HUBUNGAN POLA HIDUP MASYARAKAT PETANI SAWAH TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL(proposal).

4 Des 2011




RANCANGAN PROPOSAL

NAMA                        : M.ABDAN NURFIQIN                                                               
NIM                            : 3401409003
PRODI                       : PEND.SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI

JUDUL           : HUBUNGAN POLA HIDUP MASYARAKAT PETANI SAWAH TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL (Study kasus di dusun Mranggen,Bandarsedayu,Windusari,Magelang)
A. Pendahuluan
1. latar Belakang Masalah

Di dalam masyarakat terdapat macam-macam golongan dan macam-macam kepercayaan dan agama,  karena itu kita harus mengenal adanya pola yang berisi keinginan supaya bertingkah laku yang baik, yang berisi cita-cita pekerjaan baik, atau juga bisa di sebut pola ideal (ideal pattern) dan tingkah laku  yang benar-benar dari di lakukan dari pola tersebut dinamakan behaviour pattern atau pola tingkah laku. Ideal pattern yang berlaku di dalam suatu masyarakat mempengaruhi tingkah laku anggotanya secara langsun (Ruth Benedict)
Pola hidup petani sawah mempunyai banyak kesamaan dengan pola hidup petani ladang, terutama cara hidup berkelompok dan menetap. Masyarakat petani sawah selalu berusah menyeimbangkan kebutuhan keluarga dengan kebutuhan relasinya di luar keluarga. Mereka menganggap keseimbangan tersebut sebagai kosmis dapat menyelamatkan hidup mereka
Dalam hal keharmonisan masyarakat petani sawah berbeda dengan petani ladang. Masyarakat petani ladang mengutamakan keharmonisan dalam arti luas, sedangkan masyarakat petani sawah sebaliknya mengutamakan keharmonisan daalam arti jiwa(kehidupan rohani)hal ini dapat dilihat pada kehidupan masyarakat bali yang sangat mengutamakan ketentramaan batin dan melebihi pengutamaan kebutuhan duniawi.
Kebudayaan masyarakat petani sawah berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Kebudayaan itu berkembang atas  dasar pertanian padat karya di daerah yang yang paling dekat penduduknya, penduduknya sangat kuat di pengaruhi oleh hinduisme, yang bercirikan sangat kuat pada status, mengembangkan kesenian yang sangat tinggi terutama di pusat-pusat keuasaan (kraton-kraton) yang juga sebagai pusat peradaban. Masyarakat petani sawa juga mengenal irigasi sebagai sistem pengairan sawah, maka masyarakat sangat tergantung dengan ketersediaan air, di Jawa dan Bali keadaan geografisnya mendukung akan kehidupan pertanian, air dalam masyarakat petani sawah  juga sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya. Masyarakat petani biasa menfaatkan musim untuk memulai musim tanam padi dan tanaman lainya, musim penghujan merupakan musim ideal untuk musim tanam padi, masyarkat petani sawah biasanya bermukim di daerah pedesaan, karena bergantung akan lahan pertanian yang luas dan tak akan memungkinkan bila mereka bermukim di daerah kota yang penuh dengan bangunan dan lahan pertanian yang sempit ataupun juga tidak ada, masyarakat petani sawah senang hidup menetap.

2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pola hidup masyarakat petani sawah didusun mranggen?
b. Bagaimanakah persepsi masyarakat petani sawah terhadap pendidikan formal didusun mranggen?
c. Bagaimana pengaruh pola hidup masyarakat petani sawah terhadap adanya pendidikan formal didusun mranggen?

3. Tujuan Penelitian
a. mendeskripsikan pola hidup masyarakat petani sawah didusun mranggen.
b. mengtahui persepsi masyarakat petani sawah terhadap pendidikan formal didusun mranggen.
c. mendeskripsikan proses pola hidup masyarakat  petani sawah terhadap adanya pendidikan formal didusun mranggen.

4. Manfaat Penelitian
a. Praktis, yaitu dapat di gunakan untuk membandingkan dengan dusun atau wilayah lain di pulau jawa atau wilayah Indonesia pada umumnya tentang interaksi atau hubungan pola hidup masyarakat petani sawah dengan adanya pendidikan formal.
b. teoritis, yaitu dapat memberikan pengetahuan lebih mendalam tentang interaksi, pola hidup masyarakat petani sawah dan pendidikan formal. Dan dapat digunakan sebagai referensi dalam kebutuhan penelitian lanjutan atau sejenis.

B. LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
Selo soemarjan dan Soelaiman Soemardi bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antar berbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal-balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan politik, antar segi hukum dengan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dengan segi kehidupan ekonomi dan sebagainya. Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, karena intraksisosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Intraksi sosial mrupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-perorangan,kelompok –kelompok orang maupun orang perorangan dengan kelompok manusia: Gilin dan Gilin (1954). Bentuk-bentuk interaksi sosial adalah kerja sama (cooperation), persaingan (competition), akomodasi (accomodation), dan bahkan berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict):selo sumardjan dan solaeman soemardi (1964).
Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin,karakter), pikiran (intelek)dan tubuh anak: Ki Hajar Dewantara.
Pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi: Crow and Crow.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual-keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara: UUSPN NO.20 Tahun 2003.
Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah),sehingga dia dapat memproleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal:Dictionary of education
Pendidikan formal jalur pendidikan yang terstrukturdan  berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, peendidikan tinggi:PP No 19 2005
POLA
Pola adalah sesuatu yang diterima seseorang atau kelompok dan dipakai sebagai pedoman, sebagaimana diterimanya dari masyarakat sekelilingnya.
Pola adalah sambungan dan hubungan antara semua hal-hal, mengerti pola membantu kita menemukan akar tantangan dan menuntun kita pada kehidupan yang swasembada sekaligus selaras dengan alam.
Pola adalah susunan teratur dari objek atau peristiwa dalam waktu atau ruang. (kamus besar bahasa indonesia)
Masyarakat
Masyarakat merupakan kesatuan dari orang-orang yang hidup di daerah tertentu dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok berdasarkan kebudayaan yang sama untuk mencapai kepentingan yang sama. Masyarakat memiliki ciri-ciri mempunyai wilayah, merupakan satu kesatuan penduduk, terdiri atas kelompok-kelompok fungsional yang heterogen, mengemban fungsi umum dan memiliki kebudayaan yang sama.
Salah satu ciri masyarakat adalah selalu berkembang. Mungkin pada masyarakat tertentu perkembangannya sangat cepat, tetapi pada masyarakat lainnya agak lambat bahkan sangat lambat. Karena adanya pengaruh dari perkembangan teknologi, terutama tekonologi industri transportasi, komunikasi, telekomonukasi, dan elektronika. Masyarakat kita dewasa ini berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi, dan global. Dalam kondisi masyarakat demikian, perubahan-perubahan terjadi dengan cepat, lancar dan akurat. Perubahan yang cepat hampir terjadi dalam semua aspek kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, ideologi, nilai-nilai etik dan estetik. Perubahan-perubahan masyarakat ini akan mempengaruhi pengetahuan, kecakapan, sikap, aspirasi, minat, semangat, kebiasaan bahkan pola-pola hidup mereka. Manusia secara psikologis memerlukan komunitasnya untuk berkembang dan jarang sekali berani berkembang sendiri menjauhi norma-norma dan harapan masyarakatnya.
Dalam masyarakat terdapat dua macam, yaitu masyarakat desa dan mayarakat kota. Masyarakat kota biasanya hidup dalam kota-kota besar, dan sebaliknya dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang hidup di pedesaan.
Desa  merupakan satuan terkecil dari pemerintahan negara kita sejak jaman kerajaan hingga penjajahan dan kemerdekaan. Desa sendiri berasal dari bahasa india “Swadesa” yang berarti tempat tinggal negeri asal atau tanah leluhur yang merujuk pada suatu kesatuan hidup, dengan satu kesatuan norma serta memiliki batas yang jelas.
Roucok dan Waren (dalam Yuliati, 2003:24) mendefinisikan desa sebagai bentuk yang diteruskan antar kedudukan dengan lembaga-lembaga mereka di wilayah setempat di mana mereka tinggal yaitu ladang-ladang yang berserak dan di kampung yang biasanya menjadi pusat aktivitas mereka bersama.
Desa sebagai ruang masyarakat tradisional memiliki kecirian fisik yang di tandai oleh pemukiman yang tidak padat, sarana transportasi yang langka, penggunaan tanah persawahan. Kecirian lain berupa unsur-unsur sosial pembentuk desa yaitu penduduk dan tata kehidupan. Ikatan tali kekeluargaan di desa sangat erat di mana gemeinshaft menjadi dominan
Ciri-ciri masyarakat desa:
1.      Masyarakatnya erat sekali hubungannya dengan alam. Masyarakat desa pada umumnya sangat bergantung kepada alam. Hal ini dikarenakan memang daerah pedesaan lebih banyak masih alami dan belum mendapat sentuhan pembangunan seperti halnya kota. Masyarakat menggunakan alam sekitar seoptimal mungkin untuk kehidupan mereka. Tanah di pedesaan yang umumnya masih subur banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kelangsungan hidup mereka. Misalnya membuka lahan untuk pertanian padi, perkebunan,dll.
2.      Penduduk di desa merupakan unit sosial dan unit kerja. Penduduk desa merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa kekerabatan yang menempati suatu wilayah sosial tertentu. Penduduk desa biasanya bila bekerja selalu bersama-sama atau berkelompok dengan penduduk lain membentuk satu unit kerja, misalnya dalam kegiatan panen maka secara otomatis penduduk akan berkelompok untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.
3.      Masyarakat desa mewujudkan paguyuban/gemainschaft. Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan ini adalah rasa cinta rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis.
Unsur-unsur Desa adalah:
1.    Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaanya, termasuk juga unsur lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografi setempat. Daerah ini berfungsi untuk menyediakan kemungkinan hidup, karena suatu masyarakat tidak bisa hidup tanpa ada daerah yang dapat dihuni olehnya.
2.    Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa setempat. Penduduk bisa mempertahankan hidupnya setelah menempati daerah tadi. Penduduk juga bisa disebut sebagai orang-orang yang menempati suatu daerah.s
3.    Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jadi, menyangkut seluk-beluk kehidupan masyarakat desa (rural society). Tata kehidupan, dalam artian yang baik memberikan jaminan akan ketenteraman dan keserasian hidup bersama di desa.
Petani
Petani   adalah seseorang yang bergerak di bidang    bisnis pertanian   utamanya dengan cara melakukan   pengelolaan   tanah       dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman (seperti padibungabuah dan lain lain), dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk di gunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain. Mereka juga dapat menyediakan bahan mentah bagi industri ,seperti serealia untuk minuman beralkohol, buah untuk jus, dan wol penenunan dan pembuatan pakaian.
Dalam negara berkembang atau budaya pra-industri, kebanyakan petani melakukan agrikultur subsistence yang sederhana - sebuah pertanian organik sederhana dengan penanaman bergilir yang sederhana pula atau teknik lainnya untuk memaksimumkan hasil, menggunakan benih yang diselamatkan yang "asli" dari ecoregion.

C. METODOLOGI
I. Dasar Penlitian
Dalam penelitian yang berjudul HUBUNGAN POLA HIDUP MASYARAKAT PETANI SAWAH TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL (Study kasus di dusun Mranggen,Bandarsedayu,Windusari,Magelang) Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Boghdan dan Tylor dalam Moleong (2004:3) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data dekskriptif berupa kata-kata tertulis atauu lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistic (utuh), dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau oranisasi dalam variabel atau hipotesis tetapi perlu juga memandangnya sebagai bagian daro suatuu keutuhan. Sedangkan menurut Kirk dan Miller, mendefinisikan bahwa penelitian kulaitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosia secara fundamental yang bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam lingkungannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut di dalam pembahasannya (Moleong, 2004:3).
Metode kualitatif ini digunakan dengan beberapa pertimbangan yaitu, menyesusikan agar lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, metode ini lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Metode yang digunakan dalam penelitian selain mengambil data yang dituntun, penjelasan berupa uraian dan analisis yang mendalam. Dalam penelitian ini, menggunakan metode yang diharapkan ketika pembaca membaca tulisan ini seolah-olah didalamnya dan dapat mengikuti alur ceritanya.
Penelitian kualitatif lebih mementingkan pada penjelasan tentang pola hubungan anatar gejala yang diteliti. Hal ini sesuai dengan tujuanpenelitian kualitatif yang berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan suatu pola hubungan antar gejala atau peristiwa yang diteliti. Dengan demikian, untuk menjelaskan pola-pola tersebut maka metode penelitian kualitatif menurut Tylor dan Boghdan mempunyai cirri-ciri antara lain induktif, holistic, naturalistik, memahami masyarakat yang akan dikaji dari sudut pandang emik, mengesampingkan pandangan subjektif peneliti, mencoba memahami serta mendetail perspektif masyarakat yang distudi, humanistic, menekankan validitas dalam penelitian, semua latar belakang dan orang berharga untuk dikaji dan merupakan seni (Joyomartono,1995:3).

II. Fokus Penelitian
Fokus adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Waluyo, 1990:61). Menurut Moleong (2004:237) tidak ada satupun penelitian yang dapat dilakukan tanpa adanya fokus yang diteliti.
Fokus dari penelitian ini adalah pola kehidupan masyarakat petani sawah  mempengaruhi pendidikan formal yang di fokuskan objek kajian di dusun Mranggen, desa  Bandarsedayu, kecamatan Windusari, kabupaten Magelang.
III. Lokasi
Penelitian ini di lakukan di dusun Mranggen, desa Bandarsedayu, kecamatan Windusari, kabupaten Magelang. Masyarakat dusun mranggen mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, yang mengolah lahan pertanian yang brupa sawah-sawah musiman dan sawah tadah hujan.
IV. Sumber Data Penelitian
a.) Subjek
subjek dari pnelitian ini adalah warga  masyarakat dusun Mranggen, desa Bandarsedayu, kecamatan Windusari, kabupaten Magelang. Yang di khususkan kepada masyarakat petani sawah (yang bermata pencaharian sebagai petani)
b.) Informan
Informan utama dari penelitian ini adalah perangkat desa yang berwenang di dusun Mranggen, desa Bandarsedayu, kecamatan Windusari, kabupaten Magelang yang biasa di sebut “Bayan”.
c.) Dokumen-dokumen
Dokumen yang di gunakan dalam penelitian ini adalah berupa catatan-catatan resmi, foto, maupun buku-buku yang relevan dengan masalah ini.

V. Teknik Pengumpulan Data          
Menurut Rachman (1997:71) bahwa penelitian di samping menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.            Observasi
Observasi merupakan pengamatan terhadap fenomena yang akan dikaji, dalam hai ini berarti peneliti terjun langsung dalam lingkungan masyarakat. Menurut Abdurrachman (Fathoni. 2004:104) pengamatan adalah tehnik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku ojek sasaran. Dengan metode observasi ini, peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap subjek yang diteliti dalam kurun waktu yang lama. Observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap (Arikunto, 1997:128). Teknik observasi menurut Arikunto adalah kegiatan yang memusatkan perhatian terhadap suatu objek menggunakan seluruh alat indera.
2.            Wawancara
Menurut Koentjaraningrat, metode wawancara atau interview merupakan cara yang dipergunakan kalau seseorang mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang tersebut. Sedangkan Moleong menyatakan wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh pihak pewawancara yang mengajukan pertanyaan pada terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
Teknik wawancara ini dipergunakan dalam penelitian untuk mendapatkan informasi mengenai hubungan pola hidup masyarakat petani sawah terhadap pendidikan formal. Peneliti menggunakan alat pengumpulan data yang berupa pedoman wawancara yaitu instrumen yang berbentuk pertanyaan yang ditujukan kepada masyarakat dusun mranggen.
3.            Dokumentasi
Menurut Rachman (1996:96), dokumentasi merupakan cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip, buku-buku tentang pendapat teori, hukum-hukum yang berhubungan dengan masalah penelitian. Sedangkan menurut Arikunto (2006:158), dokumentasi berasal dari kata dokumen. Yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokementasi peneliti menyelidiki benda-benmda teryulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, pearturan-peraturan, dan sebagainya.
Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data seperti foto-foto keluarga petani, aktivitas anak dan keluarga, dan setersnta. Dalam alat dan teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hal ini disebabkan karena peneliti merasa ketiga metode ini cukup relevan dalam pengumpulan data.
VI. Analisis Data
Dari penelitian yang telah diperoleh oleh peneliti kemudian diperoleh data-data yang kemudian akan di analisis sehingga peneliti dapat mengguraikan hasil penelitiannya. Karena pada penelitian kualitatif yang paling utama ada mendeskripsikan hasil penelitian.









Daftar Pustaka.


Handoyo,eko,dkk.2007.” Studi Masyarakat Indonesia” Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang: Semarang
Moleong, J.Lexy. 2005. Metode Penelitian Kulitatif. PT Remaja Rosdakarya: Bandung
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Grafindo Persada: Jakarta
Munib,Achmad,2009.”Pengantar Ilmu Pendidikan”. UNNES PRESS:Semarang


















Lampiran 1

Panduan Obsrvasi

HUBUNGAN POLA HIDUP MASYARAKAT PETANI SAWAH TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL (Study kasus di dusun Mranggen,Bandarsedayu,Windusari,Magelang)
Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data yang penting sebagai pembanding data yang diperoleh dari wawancara. Adapun hal-hal yang menjadi fokus penelitian dalam melaksanakan observasi antara lain :

  • Gambaran umum dusun Mranggen, desa Bandarsedayu, kecamatan Windusari, kabupaten Magelang.
  • Persepsi masyarakat petani sawah terhadap pendidikan formal
  • Pengaruh pola hidup masyarakat petani sawah terhadap pndidikan formal















Lampiran 2

Panduan Wawancara

HUBUNGAN POLA HIDUP MASYARAKAT PETANI SAWAH TERHADAP PENDIDIKAN FORMAL (Study kasus di dusun Mranggen,Bandarsedayu,Windusari,Magelang)

Pedoman Wawancara untuk masyarakat
Nama                                                 :                                                  
Jenis kelamin                                   :                                                  
Status                                                 :                             
Tingkat pendidikan terakhir           : 

1), Sudah berapa lamakah anda bermukim di dusun mranggen?
2). Bagaimanakah latar belakang pendidikan orang di dusun mranggen ?
3). Apakah pendidikan formal di minati masyarakat dusun mranggen ?
4). Pendidikan apakah yang sring di pakai di dusun mranggn?
5). Bagaimanakah petani menghidupi keluarga?
6). Apakah tanah yang di garap milik sendiri?
7). Apakah ada tuan tanah dan buruh di dusun mranggen?
8). Apakah ada sistem irigasi di dusun mranggen?

4 komentar:

PoeR_Purwanti mengatakan...

1. penulisan makalah ini sebaiknya di edit kembali sebelum diposting sehingga lebih terlihat rapi.
2. penulisan identitas diri anda pada awal penulisan makalah sebaiknya tidak usah ditampilkan.
3. font tulisan anda dan jenis tulisan disamakan saja maka terlihat lebih apik untuk dibaca.
terimakasiiihhh...

asrikoe mengatakan...

isi artikel bagus, tapi kurang rapi dalam penulisan seperti ukuran font dan space yang berbeda juga sebaiknya identitas diri tidak perlu dicantumkan langsung di tulis judul dari rancangan proposal saja.
trims.....

Coretan Icha mengatakan...

Kalau dilihat isi artikelnya bagus, tapi kurangnya adalah tidak diedit terlebih dulu. alangkah baiknya sebelum di publikasikan diedit terlebih dahulu.
terima kasih

pakdhe abdan mengatakan...

yo

Poskan Komentar

 

human`s collection

Loading...